Berakhirnya momentum Qatar?
Qatar terguncang akibat perang Iran, dan kemampuannya membungkam para pengkritik dengan uang kian menyusut.
Michael Rubin merupakan pakar yang mendalami Iran, Turki, dan Tanduk Afrika. Perjalanan kariernya mencakup masa bertugas sebagai pejabat Pentagon, dengan pengalaman lapangan di Iran, Yaman, dan Irak, serta keterlibatan dengan Taliban sebelum peristiwa 9/11. Rubin juga berkontribusi dalam pendidikan militer dengan mengajar satuan Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat mengenai konflik kawasan dan terorisme. Karya akademiknya mencakup sejumlah publikasi kunci, seperti “Dancing with the Devil” dan “Eternal Iran.” Rubin meraih gelar Ph.D. dan M.A. di bidang sejarah serta B.S. di bidang biologi dari Yale University.

Pada 12 Juli 2026, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani meninggal dunia. Pada 1995, ketika ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, berada di Jenewa, Hamad melancarkan kudeta tanpa pertumpahan darah, meski belakangan ia menuntut Interpol menangkap ayahnya dan memulangkannya ke Qatar untuk dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan. Khalifa menjalani pengasingan sembilan tahun di Prancis, sebelum Hamad mengizinkannya kembali.
Di bawah Khalifa, Qatar merupakan pelabuhan sepi dan tak lebih dari bayang-bayang Dubai. Ketika saya tiba pada 1994, terminal utama bandara tidak lebih dari gudang besar dengan deretan konter dan lampu neon, jauh dari keajaiban arsitektur dan lanskap dalam ruangan seperti sekarang. Pada akhir pekan, segelintir ekspatriat yang menetap berkumpul di Ramada, satu dari hanya lima hotel internasional di kota itu, untuk bersosialisasi dalam brunch; bagi orang asing, tempat itu menjadi salah satu dari sedikit sumber hiburan di negara tersebut.
Hamad memodernisasi kota dan mengubahnya menjadi pusat internasional. Ia memanfaatkan kekayaan gas Qatar yang sangat besar untuk mereklamasi lahan, menarik investasi, dan memperluas kekuatan lunak Qatar di bidang pendidikan serta seni. Istri keduanya, Sheikha Moza, ibu dari emir saat ini, mendirikan Qatar Foundation dan tetap menjadi salah satu penggerak utama di balik rangkulan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin dan gerakan-gerakan Islam lain yang lebih ekstrem. Pada 25 Juni 2013, dalam langkah mengejutkan, Hamad turun takhta dan menyerahkan kekuasaan kepada Tamim, putranya bersama Moza, melalui pidato yang disiarkan televisi.
Tamim melanjutkan visi ayahnya dan politik ibunya. Di bawah Tamim, Qatar meningkatkan dukungannya kepada universitas-universitas, organisasi riset kebijakan terapan, dan media di Barat. Sementara media yang didanai Qatar seperti Al Jazeera dan Middle East Eye menyebarkan teori konspirasi tentang American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan uang Yahudi, Qatar membelanjakan sekitar delapan kali lipat lebih banyak per tahun untuk memengaruhi politikus dan guru besar Amerika Serikat dibandingkan AIPAC.
Strategi Tamim dan Moza sederhana: penangkapan negara (state capture). Dengan kekayaan triliunan dolar, Qatar berhasil mengooptasi lembaga dan individu. Para pejabat Qatar akan berdalih bahwa altruisme yang mendorong amal mereka, tetapi cukup banyak contoh yang menunjukkan Doha menjaga hubungan timbal balik dengan para penerima dana dan mitranya; Doha jarang, kalaupun pernah, mendanai atau melanjutkan pendanaan bagi universitas-universitas dan organisasi riset kebijakan terapan atau para guru besar dan akademikus yang tidak mengikuti garisnya.
Namun, Tamim bisa jadi Icarus zaman modern. Para pejabat Qatar meyakini mereka dapat membelanjakan uang dan mengooptasi tanpa konsekuensi, yang memuncak pada pemberian pesawat senilai 400 juta dolar AS kepada Presiden Donald Trump. Qatar juga menghadiahkan penggunaan Pangkalan Udara Al-Udeid kepada Komando Pusat Amerika Serikat. Doha, seperti Ankara, memahami bahwa menjadi tuan rumah pangkalan AS dapat memberi pemerintah tuan rumah kartu “bebas dari penjara” untuk menghindari pertanggungjawaban atas dukungan terorisme dan pelanggaran lainnya. Pada saat yang sama, Tamim, seperti ayahnya sebelumnya, meyakini ia dapat membayar negara-negara seperti Iran dan proksi-proksinya agar Qatar memperoleh perdamaian dan akses. Satu dekade lalu, Qatar terkenal membayar tebusan 1 miliar dolar AS kepada sebuah milisi Syiah Irak untuk membebaskan warga Qatar yang tengah berburu di Irak; uang itu langsung mengalir ke kas milisi dan bahkan mungkin ke kas Pasukan Quds.
Masalah dari menuruti pemerasan ialah bahwa hal itu justru mendorong pemerasan berikutnya; tidak pernah mendatangkan perdamaian atau menyelesaikan persoalan. Para diplomat Qatar membela mitra Iran mereka, tetapi kini mereka menyadari para pemimpin Iran tidak pernah peduli. Uang dapat membeli penyanjung, tetapi tidak pernah membeli kawan sejati.
Terganggunya lalu lintas melalui Selat Hormuz berdampak secara tidak proporsional terhadap Kuwait dan Qatar, karena keduanya adalah dua negara Arab Teluk yang tidak memiliki jalur ekspor alternatif. Bahrain juga tidak memiliki garis pantai di Laut Merah maupun Laut Arab, tetapi minyaknya sejak awal tidak lebih dari subsidi dari Arab Saudi.
Kini datanya sudah tersedia. Pada kuartal kedua 2026, dari 1 April hingga 30 Juni, defisit Qatar mencapai 21,2 miliar rial Qatar (5,8 miliar dolar AS) terhadap produk domestik bruto nominal sebesar 170,5 miliar, setara dengan sedikit lebih dari 12,4 persen produk domestik bruto. JP Morgan menempatkan angka persentase defisit itu lebih dekat ke 11,4 persen, tetapi angka tersebut tetap merupakan defisit kuartalan terbesar dalam sejarah Qatar. Jika laju kuartal kedua berlanjut, dengan sedikit atau bahkan tanpa aliran gas alam cair, defisit 2026 bisa mencapai 12 persen dari produk domestik bruto. Kendati Bank Dunia kembali mengambil pendekatan yang lebih terukur, lembaga itu tetap mendapati kontraksi sebesar 7,1 persen.
Para pejabat Iran mengisyaratkan niat mereka untuk melanjutkan sikap keras terkait kebebasan navigasi.
Pada 1 September 2026, Wakil Presiden Iran Mohammad-Reza Aref mengatakan pendekatan Iran kemungkinan akan berupa “bukan perang, bukan damai” (neither war, nor peace) untuk dua tahun ke depan. Ini merupakan pertanda buruk bagi Qatar, karena pendapatan minyak dan gasnya pada kuartal kedua hanya 874 juta rial Qatar (240 juta dolar AS), turun 97 persen dari tahun sebelumnya. Para pejabat Qatar menyadari mereka menghadapi masalah. Belanja kuartal kedua turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pengeluaran operasional dipangkas 30 persen.
Pemulihan tidak akan mudah. Serangan Iran telah melumpuhkan 17 persen kapasitas gas alam cair, merugikan Qatar sekitar 20 miliar dolar AS per tahun dalam pendapatan, setara dengan sekitar 20 kali pemberian dana kepada Georgetown University. Meski para pejabat Qatar menyatakan ekspor nonhidrokarbon meningkat, hal ini diragukan; Indeks Manajer Pembelian sektor swasta telah mengalami kontraksi tujuh bulan berturut-turut. Pasar saham Qatar ditutup pada titik terendah dalam enam tahun. Pariwisata terus merosot.
Sebagai negara, tentu saja Qatar tidak akan ke mana-mana. Namun, kekuatan lunak yang selama ini digunakan para pemimpinnya dengan arogan akan memudar. Bagi banyak kalangan di Washington, menerima uang Qatar atau, dalam hal ini, uang Saudi maupun Emirat, sejak awal merupakan hal yang mendiskualifikasi, tetapi banyak pula di Washington memandang pemberian Qatar tidak bertanda stigma. “Qatar Force One” menjadi titik balik, sebuah kekeliruan yang mengaitkan kemurahan hati Qatar dengan korupsi dalam benak publik. Dari kepala staf Susie Wiles hingga utusan Steve Witkoff, pemerintahan Trump sepenuhnya terkompromikan oleh koneksi dan dana Qatar.
Pertanyaan di Washington, ketika kendali atas Senat dan Dewan Perwakilan mungkin berpindah, ialah apakah investasi Qatar pada Partai Demokrat sama besarnya, yang kemungkinan memang demikian, dan apakah para penerima dari Demokrat akan berupaya menutupi kompromi mereka di masa lalu. Memamerkan pemberian Qatar kemungkinan akan membuat terlalu banyak pihak terkait dengan Trump dalam benak publik. Bagaimanapun, ketika kebanyakan warga Amerika memandang Kongres, mereka tidak melihat malaikat dan iblis, melainkan praktik mencari keuntungan sendiri yang sinis di seluruh spektrum politik.
Pengaruh Qatar akan bertahan di masyarakat sipil untuk beberapa waktu. Qatar Foundation milik Moza tidak transparan, dan masih memiliki pendapatan ratusan miliar dolar, yang memberinya pengaruh. Namun, ketidakmampuan mengisi ulang dananya, dikombinasikan dengan tuntutan domestik untuk mempertahankan standar, akan meningkatkan penarikan dari dana pokok atau endowmennya. Musuh-musuh Qatar, dan jumlahnya mungkin lebih banyak daripada yang disadari para diplomatnya, akan mencium darah di air dan, seperti pada masa blokade Kuartet Arab 2017, akan mencari keuntungan.
Warga Amerika mengalami gelombang kepanikan terkait pengaruh asing yang berlebihan. Selama krisis minyak dan embargo 1973–74, gelombang sentimen anti-Arab, khususnya anti-Saudi, yang tajam melanda Amerika Serikat. Warga Saudi hingga kini masih menyimpan rasa tidak suka atas penggambaran mereka dalam kartun politik pada era itu.
Pada 1980-an, gelombang sentimen anti-Jepang melanda Amerika Serikat seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan Jepang memangsa bangkai industri Amerika, memberhentikan pekerja Amerika, dan memperlakukan buruh seperti automaton. Film seperti Gung Ho karya Ron Howard sempat populer.
Pada satu atau dua dekade pertama abad ke-21, kecurigaan terhadap China meningkat, terutama ketika perusahaan-perusahaan China berupaya menguasai media, properti strategis, dan universitas melalui organisasi seperti Institut Konfusius. Kecurigaan semacam itu beralasan, tetapi regulasi Kongres dan stigma membantu menyurutkan kehadiran China dan, setidaknya, menciptakan biaya reputasi bagi mereka yang menerima uang China.
Dengan Qatar yang terguncang akibat perang Iran, kemampuannya membungkam para pengkritik yang kian menurun, serta pertanyaan yang kian mengemuka tentang keterlibatannya dalam korupsi pada era Trump, kini muncul pertanyaan apakah Qatar benar-benar dapat pulih, atau momentumnya telah berakhir.
Dapatkan analisis Middle East Forum lewat email: berlangganan buletin (dalam bahasa Inggris)